CV. BIO PRIMA ENERGI berkedudukan di Lapangan Ros II (Sawo Kecik) No.42 Tebet Jakarta Selatan dan telah resmi beroperasi di Indonesia.

CV. BIO PRIMA ENERGI adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bidang bio-energi, dengan aktivitas meliputi kegiatan pengadaan alat DESTILATOR/DEHIDRATOR dan pengembangan rekayasa teknologi produksi bio-fuel khususnya mesin bio-ethanol, dan berkembangnya dalam kemitraan dan strategi dengan kalangan usaha kecil-menengah berbasis industri rakyat.

Baca Selengkapnya...

Rabu, 13 Januari 2010

Energi Hijau tidak Bisa Ditunda Lagi


JAKARTA (Media): Pemanfaatan energi hijau atau energi terbarukan harus mulai digalakkan dan tidak bisa ditunda lagi, guna menghindari bencana kekurangan energi akibat habisnya cadangan minyak Indonesia. 

Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luluk Sumiarso menyatakan hal tersebut di Jakarta, akhir pekan lalu.
Menurut Luluk, cadangan energi fosil (minyak bumi) di Indonesia semakin menipis dan diperkirakan akan habis dalam waktu kurang dari sepuluh tahun. "Untuk menghindari krisis energi, pemanfaatan energi alternatif seperti energi hijau harus betul-betul dikembangkan," tegasnya. 

Untuk mengembangkan energi hijau, lanjut Luluk, Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi telah menempuh sejumlah langkah penyusunan konsep kebijakan energi terbarukan dan konservasi energi. Salah satu konsep yang kini tengah dijalankan adalah program peduli energi hijau. 

"Melalui kegiatan ini masyarakat diharapkan akan lebih paham tentang pentingnya pengembangan energi terbarukan dan konservasi energi, sehingga secara sadar mau menerapkan dalam kehidupan sehari-hari," tambah Luluk.
Menurut Luluk, pemanfaatan energi hijau selama ini mengalami sejumlah hambatan di antaranya biaya investasi yang masih mahal, harga energi yang dihasilkan belum dapat bersaing dengan harga energi minyak bumi, dan belum dikenal masyarakat luas. 

Indonesia Berpotensi Kembangkan Bioetanol




Jumat, 25 September 2009 14:34 WIB

YOGYAKARTA--MI: Indonesia yang merupakan negara kaya hasil produksi pertanian dan perkebunan berpotensi mengembangkan bioetanol sebagai bahan bakar pengganti bensin.

Bahkan di masa depan, konversi bahan bakar ke bioetanol dapat menjadi solusi terhadap semakin menipisnya kandungan minyak bumi, kata anggota tim peneliti Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Teddy Nurcahyadi, di Yogyakarta, Jumat (25/9).

Senin, 04 Januari 2010

Kalteng Uji Coba Bioetanol Dari Singkong

Kapanlagi.com - Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melakukan uji coba pengembangan energi alternatif berupa bahan bakar bioetanol dari bahan dasar singkong.

Bioetanol berbahan dasar singkong itu akan diuji coba tahun depan di daerah. Pemanfaatan bioetanol ini lebih murah dibanding minyak tanah atau premium, kata Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Provinsi Kalteng, Farid Yusran, di Palangka Raya, Senin (16/6).

Pengembangan bioetanol itu akan dimulai di Kota Palangka Raya dan pihaknya kini telah menyiapkan lokasi lahan untuk perkebunan singkong di kawasan Tangkiling serta penyiapan mesin pengolah.

Untuk menghasilkan bioetanol sekitar satu liter dibutuhkan sedikitnya 6,5 kilogram singkong. Bioetanol yang dihasilkan nantinya bisa untuk oktan 40% atau seperti minyak tanah, 70% seperti premium bahkan 90% seperti Pertamax.